![]() |
| Presiden Prabowo saat Memberi Arahan pada acara panen raya dan pengumuman swasembada beras di Kabupaten Karawang, Jawa Barat | Foto : YT Sekpres |
Dalam kesempatan tersebut, ia menceritakan berbagai tuduhan miring yang pernah dialamatkan kepadanya di masa lalu.
Prabowo mengungkapkan bahwa tekadnya untuk memimpin bangsa lahir dari keprihatinan mendalam terhadap ketidakadilan dan pengelolaan kekayaan negara yang belum maksimal.
"Saya bisa merasakan keadilan dan tidak adanya keadilan. Karena itu saya berjuang terus, saya dituduh mau jadi diktator, saya dituduh mau berkuasa, saya dituduh mau kudeta," ujar Prabowo mengenang masa-masa perjuangannya.
Sebelum menjabat sebagai kepala negara, Prabowo mengaku telah mengamati banyak kejanggalan dalam pengelolaan kekayaan alam Indonesia, baik saat menjabat sebagai Ketua Umum HKTI maupun ketua umum partai politik. Ia menyoroti kontradiksi antara kekayaan bumi Indonesia dengan tingkat kemiskinan rakyatnya.
"Dari dulu saya mengerti hal ini, tapi saya tidak mengerti seberapa banyak kebocoran itu. Karena saya melihat ada kejanggalan di bangsa kita. Saya melihat sudah berapa tahun negara yang begini kaya rakyatnya masih banyak yang miskin," ucap Prabowo.
Menurutnya, ketergantungan Indonesia pada pangan impor selama bertahun-tahun merupakan hal yang sulit diterima oleh logikanya. Ia menegaskan bahwa kemandirian pangan adalah harga mati bagi bangsa yang sudah merdeka ratusan tahun.
"Yang tidak masuk di akal saya bagaimana bisa negara yang begini besar, negara yang diberi karunia oleh Yang Maha Kuasa bumi yang luas, bumi yang kaya, tanah yang subur, tetapi kita tergantung bangsa lain untuk pangan kita. Kita impor, impor, impor pangan tidak masuk di hati saya, tidak masuk di akal saya," tegasnya.
Prabowo menutup arahannya dengan menegaskan bahwa saat ia mendasari kepemimpinannya dengan pemahaman atas realita di lapangan, meski ia tidak menonjolkan gelar akademik yang tinggi. Baginya, akal sehat dan nurani jauh lebih penting dalam melihat persoalan bangsa.
"Saya memang bukan orang pintar. Saya tidak punya gelar profesor, tapi saya bisa melihat yang benar dan yang tidak benar. Saya bisa melihat yang masuk akal yang tidak masuk akal," pungkas Prabowo.


