-->

Presiden Prabowo Sentil Pakar di Podcast : Jangan Mengarang dan Membuat Gaduh

Revin Safi’i
6 Jan 2026, 07:53 WIB Last Updated 2026-01-06T00:53:49Z
Presiden Prabowo saat Memberikan Sambuan pada Acara Puncak Natal Nasional | Foto : Sekretariat Presiden 
KOMINFORMA, JAKARTA –
Presiden Prabowo Subianto menyinggung fenomena pakar yang kerap memberikan analisis spekulatif mengenai dirinya di berbagai kanal media sosial. Hal tersebut disampaikan Presiden dalam sambutannya pada acara Puncak Natal Nasional 2025 di Tennis Indoor Senayan, Senin (5/1).

Prabowo menilai banyak pernyataan pakar di media sosial saat ini yang hanya sekadar bicara tanpa dasar yang kuat.

"Saudara-saudara, ada yang ini zaman teknologi ya, jadi sekarang teknologi itu ada sosmed, iya kan? Sosial media ini baik tapi ada juga kadang-kadang bahayanya. Dengan banyak podcast-podcast, banyak pakar itu bicara asal bicara," kata Prabowo.

Ia menyayangkan adanya narasi yang seolah-olah sangat memahami dinamika internal yang ia alami. Prabowo bahkan berkelakar bahwa dirinya terkadang melihat konten tersebut hanya untuk melihat isu apa yang sedang "dikarang" tentangnya.

"Jadi saya lihat ada pakar-pakar yang selalu mengerti pikiran Prabowo Subianto. Jadi kadang-kadang kalau saya mau cek kira-kira apa yang dipikirkan Prabowo Subianto, saya cari podcast. Kira-kira apa ya yang sedang dipikirkan oleh Prabowo? Ngarang itu dia. 'Prabowo sedang konflik internal dengan ini, nanti dengan itu'. Senangnya ramai, gaduh, padahal nggak ada saudara-saudara," ujarnya.

Lebih lanjut, Prabowo memaparkan bahwa berdasarkan kajian geopolitik, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi negara terkaya keempat di dunia. Namun, ia memberikan penekanan bahwa hal tersebut hanya bisa tercapai dengan syarat persatuan nasional yang kuat.

"Jadi saudara-saudara, yang saya katakan tadi, pakar-pakar geopolitik mengatakan bangsa Indonesia ini akan menjadi bangsa keempat terkaya di dunia. Tapi ada, ada syaratnya. Syaratnya apa? Syaratnya adalah apabila bangsa Indonesia bisa bersatu," jelasnya.

Presiden menekankan bahwa kunci utama terletak pada kemampuan para elit untuk mengesampingkan perbedaan dan bekerja sama demi kepentingan bangsa yang lebih besar.

"Syaratnya apa? Terutama apabila elitnya bisa bekerja sama. Ini bukan Prabowo saja, begitu saya lihat baca itu berapa tahun yang lalu, saya semakin yakin. Akhirnya selalu saya ingin, saya ingin selalu mengajak apa pun perbedaan kita, apa pun mungkin dosa-dosa kita di masa lalu, karena kita manusia pasti penuh dosa, pasti ada kesalahan," tutur Prabowo.

Menutup arahannya, ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk saling bahu-membahu dan bersatu kembali setelah masa kompetisi berakhir.

"Tapi sekarang kita harus bekerja sama, kita harus kompak, kita harus bahu-membahu. Yang kuat tarik yang lemah, yang lemah berhimpun bekerja sama, bersaing baik, tapi begitu pertandingan selesai bersatu, bersatu," pungkasnya.

Komentar

Tampilkan